Selasa, 26 Oktober 2021

Anjing

Orang bisa benci pada sesuatu karena tidak tahu, atau tidak punya informasi banyak tentang sesuatu yang ia benci.  kamu percaya? sekarang lagi rame soal anjing, karena sekumpulan oknum berseragam menyiksa anjing sampai mati dengan mengatasnamakan wisata halal. 

Saya jadi ingat, jaman saya kecil dulu banyak anjing liar di daerah saya. Jaman dulu, belum banyak jalan aspal di daerah saya, sehingga jejak kaki anjing itu sering kali ditemui di jalanan. Suatu hari saya melintas di jalan dan melihat jejak kaki anjing, tanpa sengaja saya menginjak jejaknya dan mulai khawatir karena terkena najis. Informasi yang saya terima sejak kecil, anjing itu ya najis. Yang saya tahu, anjing memang najis. 

Sampai di rumah saya lapor ke ibu, saya habis menginjak jejak kaki anjing. Saya bertanya apakah kaki saya harus saya cuci karena menginjak telapak anjing, ibu saya bilang; yang najis itu liurnya, bukan jejak kakinya. 

Saya sampai sebegitu ngerinya dan ingin mencuci kaki setelah menginjak jejak kaki anjing, karena saya nggak punya informasi banyak soal anjing. Saya nggak tahu kalau yang najis itu cuma liurnya.  Saya nggak paham apa-apa soal anjing sehingga saya secara naluriah mencari jalan yang aman; mencuci kaki setelah menginjak jejak kaki anjing. 

Manusia cenderung begitu kan? manusia sebenarnya secara naluriah menghindari apa yang mereka takuti, apa yang mereka tidak tahu dan berpotensi menimbulkan ancaman. Makanya, ketika anjing sedang ramai di bicarakan karena ada oknum yang menyiksa anjing sampai mati, saya berpikir mungking oknum-oknum pelaku pembunuhan anjing itu memandang anjing sebagai ancaman, atau justru tidak punya banyak informasi soal anjing selain anjing itu najis. 

Minggu, 24 Oktober 2021

Salah Paham

Dua orang tokoh besar dunia digital marketing sedang berseteru. Dalam hal apapun, perseteruan itu sebenarnya hal yang biasa. Orang biasa berseteru karena salah paham, tersinggung, atau bahkan merasa dirugikan. Itu hal yang sangat-sangat biasa.

Saya pernah menyaksikan dua guru saya (guru A dan guru B) berseteru. Uang adalah titik terlemah manusia, makanya banyak perseteruan berangkat dari uang, bisnis, dan sebagainya. Begitulah, mula-mula saya ikut hanyut ke dalam putaran perseteruan mereka; saya mulai memihak guru A karena memandang persoalan ini dari sudut pandang guru A. 

Sampai pada suatu hari, saya punya kesempatan untuk melihat perseteruan tersebut dari sudut pandang yang lain; dari  sudut pandang guru B. Sejak saat itu, saya mulai bisa melihat perseteruan itu dari dua sudut pandang, hingga akhirnya saya memutuskan untuk tidak memihak siapapun. Lagi pula, siapa saya? Berseteru atau tidak, dua-duanya tetaplah guru saya, sampai kapanpun. 

Mungkin ya, perseteruan dua tokoh besar digital marketing ini cuma karena salah paham. Tapi ya memang salah paham adalah masalah terbesar manusia. Andai kita bisa melihat isi hati dan perasaan orang lain, dunia tidak akan hancur karena salah paham. 

Sabtu, 23 Oktober 2021

Kupon

Saya pernah membuat televisi rumah menjadi rusak. Pas kecil dulu saya kepoan, ada lubang di bagian belakang televisi tabung 14 inch itu yang ditutup sticker. Saya melubangi sticker itu dengan telunjuk saya. Setelah itu televisinya rusak; ayah murka, saya dimarahi habis-habisan. 

Suatu hari saya dan adik saya ikut jalan santai di lapangan desa. Namanya jalan santai, pasti ada macam-macam hadiah yang bisa kita dapatkan lewat undian kupon, mulai dari televisi hingga sepeda motor. 

Entah karena alasan apa (mungkin pesimis dan merasa nggak mungkin dapat), akhirnya saya memutuskan pulang duluan dan membuang kupon saya. Pas acara selesai dan adik saya pulang ke rumah, ia nangis tersedu-sedu, katanya nama saya dipanggil pas undian dijalankan untuk mendapatkan pemenang hadiah televisi. Adik saya menangis karena yang dipanggil nama saya, yang maju orang lain. 

...

Peristiwa itu mungkin sudah terjadi belasan tahun yang lalu. Sekarang, saya punya usaha agen ekpedisi. Bulan lalu perusahaan ekspedisi tersebut menyelenggarakan dua lomba untuk memperingati hari jadi perusahaan. Saya juga nggak menyangka akan memenangkan kedua lomba tersebut, hadiah nya televisi 40 inch untuk juara satu.  Saya nggak nyangka dapat dua televisi ukuran segitu sekaligus. Saya nggak nyangka ibu akan bilang begini di Whatsapp: itu sebagai ganti kuponmu yang hilang belasan tahun lalu.

Ternyata omongan teman saya ada benarnya; apa-apa yang sudah jadi milik kita, nggak akan pernah tertukar.

Jumat, 22 Oktober 2021

Boba

Ada teman kuliah bikin status di WhatsApp, isinya menu-menu boba jualannya di aplikasi Gofood. mata saya tertuju pada satu deskripsi yang bikin ngekek: 

saat jatuh cinta, ungkapkanlah dengan Boba

Edan, kata saya. Kalau setiap merasa jatuh cinta, seseorang membelikan boba buat pacarnya, kira-kira sudah berapa berat badannya sekarang? hehehe.

Sebenernya saya mau cerita soal berat badan. Terakhir kali menimbang, berat badan saya 86,6xx Kg. Sebelum itu seingat saya malah menyentuh angka 90 an Kg. Entah sejak kapan, tapi kata orang berat badan menggambarkan kemakmuran hidup seseorang. 

Empat tahun lalu saya jadi mahasiswa, saya lulusan sebuah sekolah swasta di Bogor yang semua siswanya tinggal di asrama -- yang lauk nya bergizi hanya jika makan siang bareng guru-guru di sekolah. Makanya, keluar dari sana, bobot saya mungkin nggak sampai 60 Kg. Masa awal-awal kuliah itu, saking kurusnya, pipi saya sampai bisa dibilang kempot, blas nggak ada dagingnya. 

Semua berubah sejak dua hal: pertama, sejak saya pulih dari tipes. Selama kuliah saya dirawat 3 kali karena tipes, yang terakhir dapat bonus tambahan; liver.  Sejak sakit tipes itulah saya merasakan bobot saya pelan-pelan mulai naik. Kedua, sejak saya bisa mencari uang dan mengajak kamu mencoba banyak makanan enak.  

Sekarang saya sudah sebesar ini. Sempat beberapa kali meniatkan diri untuk ikut teman ke gym, tapi selalu kandas.  Sementara saya cuma bisa membatasi makanan saja. Saya sarapan dengan makanan-makanan yang ringan, buah atau meal replacement. Saya juga mengurangi konsumsi gula dan nasi. Sudah sebulan ini mungkin, dan saya merasa tubuh sudah mulai ringan. 

yang penting hepi kan?

Kamis, 21 Oktober 2021

Takut

1/ 

Saya takut semua berjalan tidak sesuai rencana. Waktu mempersiapkan segalanya, mulai dari gambar, halaman penawaran, dan semua strategi yang saya kira matang dan terencana, kadang saya merasa yakin betul-betul kalau kampanye iklan ini akan bagus hasilnya. Tapi hasil di akhir sering juga berbeda. 

2/ 

Saya takut apa yang sudah saya mulai berakhir dan runtuh begitu saja. Punya usaha dengan 20-an orang menggantungkan hidup di dalamnya sangat tidak mudah. Terus terang, saya sudah tidak lagi mengejar nominal. Saya cuma pingin semua bahagia dan bisa tumbuh bersama. Karenanya, saya takut tkalau iba-tiba usaha ini runtuh, saya takut banyak orang akan kehilangan pekerjaan. 

3/

dan yang paling besar; saya takut kamu bertemu dengan yang lebih nyaman. 

Rutinitas Pagi

Tak masalah jika harus sedikit berkeringat setelah mandi pagi, saya membersihkan kantor dari debu dan rontokan rambut teman-teman. Begini hingga seterusnya, saya akan duduk paling awal di ruangan kantor, membiarkan kipas menyala, dan lagu-lagi favorit mengalun di Airpods saya. 

Memulai hari tak harus dengan yang berat, yang penting hepii...

Haru

No sadness may cross this threshold - Pablo Neruda

Bipolar, kata dokter. Pasti sangat terpukul saat pertama kali kamu mendengarnya, begitu juga saya. Setelah kita tahu soal diagnosa itu, hari-hari jadi tambah berat ya? kamu mengeluh soal cemas yang tak terkendali, mood yang naik turun, rasa marah yang tak jelas dari mana asalnya, minder, tak percaya diri, dan tangisan-tangisan yang kamu, saya, dan semesta tidak pernah tahu kesedihan macam apa penyebabnya.

Ingat waktu pertama kali saya mengantar kamu ke psikiater? berbekal kertas berisi resep obat, pulangnya kita mampir ke sebuah apotek. Malam itu, saya tahu kamu hancur mendengar nominal biaya obat yang segitu besarnya. 

Sejak saat itu, saya melihat kamu bertahan hidup melewati satu kecemasan ke kecemasan yang lain. Yang paling membuat saya sedih adalah, saya nggak bisa bantu banyak. Saya cuma bisa kasih satu sisi bahu saat kamu menangis tiba-tiba di hadapan penjual pancong balap, suatu malam sebelum nonton teater. Saya cuma bisa bantu kamu meyakinkan diri bahwa dorongan misterius untuk menonjok muka dosen kita atas sebab yang kamu tak tahu dari mana asalnya, bukanlah kamu yang sebenarnya. Saya cuma bisa bantu meyakinkan mamamu saat kamu dilarang minum obat, dan hal-hal kecil yang mudah-mudahan berarti banyak.

Hal-hal itu juga bikin saya sering khawatir, mungkin sekhawatir saat kamu dulu bertanya, percaya nggak kalau mental disorder bisa menurun ke anak?, dan seandainya pertanyaan itu kamu ulangi lagi hari ini, mungkin saya akan jawab tidak percaya, karena yang saya percaya cuma satu: kita berdua akan kuat menghadapinya.

Ya begitu deh, sampai saya dan kamu pada akhirnya wisuda dan lulus dari Sastra Indonesia. Sampai kabar gembira itu saya dengar beberapa hari lalu; kamu dipanggil wawancara untuk posisi editorial assistant di sebuah penerbit terbesar di negeri ini. Waktu baca kabar itu dari WA mu, terus terang sebenarnya saya terharu. 

Tulisan ini cuma bentuk lain dari rasa haru itu, apalagi pas hari ini tak sengaja menemukan tulisan lama mu. Saya cuma pingin bilang, kalau suatu hari nanti kamu bertemu masa-masa sulit, cepat bangkit dan jangan pernah sesedih metafora di puisi Pablo Neruda; kumbang dengan seluruh kaki patah, mangsa terbungkus sarang laba-laba.




Jumat, 03 Agustus 2018

JAKARTA

       Waktu kamu membaca ini, mula-mula saya memintamu agar membayangkan sedang duduk di kursi ini dengan perasaan agak menyesal ( tapi ya bagaimana ya..) karena saat memesan tiket, ketidaktelitian membuatmu lupa memilih tempat duduk favoritmu saat  melakukan perjalanan, di samping jendela, misalnya.

       Seterusnya, kamu boleh membayangkan jadi apa saja; jadi bapak-bapak yang duduk di sebelahku, yang sebenarnya dengan baik hati mempersilakanku duduk di samping jendela tapi karena rasa sungkan dengan halus aku terpaksa menolaknya, atau jadi ibu-ibu pebisnis yang kukenal dari sedikit percakapan kami saat mula-mula duduk di bangku ini, atau jadi wirausahawan KAI yang menjajakan kopi dan popmie (yang sebenarnya lebih mirip mahasiswa danusan). Ya, setelah ini kamu boleh membayangkan jadi apa saja, tapi mula-mula, bolehkah aku memintamu untuk sebentar membayangkan rasa kecewa melewatkan kesempatan menikmati pemandangan alam ini?

Terimakasih.

       Sebenarnya lebih dari itu, Pembaca.  Tiga hari lalu saya berangkat ke Jakarta dengan perasaan benci yang tidak karuan. Saya sedang ada masalah dengan adik saya, plus perasaan malu bercampur jengkel kepada bapak kos teman saya yang memberikan saya tumpangan di Jogja sebelum kemudian mengusir saya. Terus terang, kalau tidak karena ibu saya yang meminta saya dengan sangat halus untuk tetap pergi ke Jakarta mempersiapkan semua kebutuhan adik saya yang baru saja lolos seleksi sebuah kampus ikatan dinas, saya tidak akan berangkat ke kota itu, Pembaca. Hanya bakti pada orang tualah yang menggerakkan saya untuk tidak membatalkan tiket dan berangkat dengan  kondisi demikian adanya.

       Pembaca, saya sudah diterkam rasa sungkan sejak hari pertama ada di Jakarta. Ya, saya musti menginap di kost perempuan. Sebenarnya sih biasa saja, toh saya ada disana bersama ayah, ibu, dan adik saya. Tapi perasaan itu makin kuat mencengkram leher saya saat saya dengar kabar bahwa penghuninya akan datang esok. habislah saya..

       Hari pertama, saya nyaris tak bisa tidur. Udara pengap sekali, seolah tak ada jalan sekadar buat angin lewat. Pula, saya agak prihatin melihat orang-orang yang tinggal di sekitar sini. Bagaimana mereka bisa benar benar hidup nyaman dan bahagia di tempat sesempit dan sepanas ini? Saya tidak sedang mencari jawaban. Terus terang, saya hanya ingin bilang, saya tidak kerasan.

        Begitulah, muasal segala ketidaktelitian ini. Keinginan untuk lekas pergi dari Jakarta berimbas pada penyesalan saya di bangku ini. Untungnya, saya tidak lagi diliputi rasa benci, jutru keharuan yang kalau tidak ditahan bisa merembes dari pelupuk mata, lebih-lebih saat membaca sebuah pesan yang masuk dari ibu saya, "Makasih ya, udah mau nemenin ibu.."

Saya pejamkan mata, dan berharap ingin segera sampai ke kost selekas-lekasnya.

Jakarta-Solo, 2018
Sabtu, 17 Maret 2018

Hari Minggu dan Lagu-lagu


saya bangun ketika pagi masih menyisakan petang dan remang-remang. Bibit cahaya muncul dari timur, dan kehidupan menumbuhkannya jadi cahaya paling terang. Hari minggu, pikir saya, alangkah baik untuk bermalas-malasan dan seharian rebah di tempat tidur.  Dua jam saya menikmatinya, sampai sekira pukul setengah delapan perut mulai terasa lapar dan saya memutuskan untuk mempersiapkan sarapan; memasak nasi dan membeli lauk. Sambil makan, saya putar lagu-lagu Dialog Dini Hari dari ponsel, dan menikmatinya seperti menikmati sarapan yang tak kalah nikmat.  Adakah yang lebih indah dari semua ini?”

Kamis, 01 Februari 2018

Rumah

Ini tahun ke tujuh saya pergi dari rumah, dari kehangatan yang telampau nyaman. Dan ini, tahun ke tujuh pula saya jadi orang asing tidap kali pulang ke rumah sendiri, tiap kali kembali ke kehangatan yang terlampau nyaman itu. Dulu, usia saya masih 12/13 ketika pertama kali pergi dari rumah, berangkat ke kota lain yang tak menyediakan sanak saudara. Ya, sejak itu, saya belajar menjadikan siapa saja yang saya temui sebagai saudara. Begini memang, nasib perantau. Saya tidak tahu, akhir dari perjalanan ini mungkin adalah rasa kengen paling premium terhadap kehangatan, terhadap rumah yang telah membesarkan saya. Entahlah, mungkin justru membuat saya –alih-alih makin rindu –  semakin lupa kepada rumah.

Saya tidak mengkhawatirkan apapun, bahkan kelak jika harus hidup di tempat lain yang jauh dari rumah. Yang jelas, kemanapun saya pergi, rumah ini akan selalu saya bawa dalam hati juga ingatan. Yang jelas, kemana pun saya pergi, saya tetap punya rumah untuk kembali.  Tetapi makin kesini, belakangan saya jadi berpikir, mungkin rumah saya adalah dimana saja, kota-kota, desa-desa, dimanapun saya berada dan hangat di dalamnya, di situlah rumah yang sebenarnya. 
Selasa, 14 November 2017

Bangun Pagi

udara bening, ketenangan mencapai puncaknya, dan kesadaran telah melampaui batasnya. Saya baru pulang dari kampus, menyelesaikan pembuatan orang-orangan sawah untuk keperluan pentas. Meskipun pada akhirnya pertemuan kami tidak menghasilkan apa-apa, selain kebingungan dan kebuntuan tentang bagaimana menyelesaikannya, paling tidak kami sudah mencoba. Kebutuhan inni sesungguhnya agak berat untuk tim Perlengkapan, pasalnya yang dibuat bukan hanya orang-orangan sawah yang biasa dipasang petani, kami harus membuat sebuah diorama orang-orangan sawah.

Seperti yang sudah saya bilang, saya baru pulang dari kampus.  Sekarang pukul dua belas lebih tiga belas, udara bening dan ketenangan telah sampai pada puncaknya. Saya tidak khawatir apa-apa, ketenangan ini nikmat dan membahagiakan, kecuali satu hal; bagaimanakah saya harus bangun esok hari? Saya memang telah memintamu untuk membangunkan saya lewat telepon, tapi sebenarnya saya tidak menjamin, paling tidak adalah usaha agar saya bisa bangun besok pagi. Biasanya, alarm lima kali saja saya tidak sadar, dan siapa tahu, sebab kamulah yang membangunkan saya,  saya bisa kembali terjaga.

Sebenarnya, ini belum larut menurut orang-orang yang biasa tidur menjelang pagi, belum ada apa-apanya dan memang begitulah saya: selalu sulit dan merasa gagal untuk tridur sedikit lebih lama, apa lagi jika menghadapi tugas kuliah. Saya pernah mencoba tidur lebih awal dan berharap bangun sekira pukul dua, mencoba menulis atau apalah, tapi pada kenyataannya saya gagal, alih-alih pukul dua saya justru bangun ketika pagi sudah beranjak terang.

Beruntunglah orang-orang yang terbiasa bangun pagi, mereka bisa melakukan aktivitas dengan khusyuk dan terhindar dari pikiran yang ruwet.

Waktu telah berjalan mendekati pukul satu, rasa kantuk mampir, mulai muncul bunga di kening saya, pelan-pelan rekah, seperti doa-doa yang pasrah.  Ah, saya harus segera tidur.



Selasa, 07 November 2017

Mengejar Mangga

Jangan terlalu serius membaca judul ini, mangga tidak benar-benar berlari dan mana mungkin saya mengejarnya. Ceritanya begini, sekira menjelang pukul satu siang, sambil istirahat menikmati ketidakhadiran dosen, saya menunggu pelanggan masuk dan sibuk konfirmasi sana-sini soal pelunasan barang yang akan ikut pengiriman hari ini. Seorang bapak, dengan perhatiannya memesan shampoo anti kutu yang saya jual untuk putrinya, mungkin hampir putus asa, kutu-kutu itu tak kunjung juga berpisah dengan kepala putrinya.

 Sedang tenggelam dalam kesibukan itu, tiba-tiba saya rasakan perut berbunyi beberapa kali. Tidak biasanya, pikir saya. Pagi tadi saya sarapan sekira pukul setengah sembilan dengan porsi biasa, cukup mengherankan mengingat hari-hari biasa, bahkan saya cukup makan gorengan dan arem-arem.
Saya jadi penasaran dan menerka-nerka, jangan-jangan ada masalah dengan menu sarapan yang saya makan, jangan-jangan ada yang tidak beres dengan es dawet yang saya beli di jalan pulang menuju kosan, sedang dipenuhi pikiran itu, badan saya tetiba lemas, saya makin cemas. Di atas kasur saya berbaring dengan gelisah, meski dengan jari-jari bergetar saya usahakan tetap profesional membalas pertanyaan-pertanyaan konsumen.

Beberapa menit kemudian, saya sudah tidak tahan, barangkali saya hanya lapar, tapi telpon dari pacar saya makin keras dan nyaring berbunyi. “Ada apa sebenarnya? Kamu ga papa kan?” saya paham, sedikit saja teledor, saya akan membuatnya cemas. Saya mulai membayangkan aroma klinik, obat-obatan, ah itu menakutkan! Akhirnya, mengenakan training yang saya pakai semalam, saya bergegas dengan tenaga seadanya menuju warung makan. Saya hanya ingin makan, bukan klinik, obat atau lain-lain, pikir saya. dalam kayuhan sepeda itu, saya tahu, ia menahan cemas. Saya tutup sebentar teleponnya, dengan kata-kata “Tenang, saya akan baik-baik saja, Diriku.”

Di jalan, sebelum berbelok ke warung makan, saya berpapasan dengan seorang bapak paruh baya yang  menuntun sebuah sepeda dengan keranjang penuh mangga. Ingat percakapan telepon dengan ibu beberapa hari lalu, tetiba saya pingin satu hal; mangga. Tapi terlalu banyak keinginan di tengah krisis begini bukanlah suatu hal yang baik, pikir saya. saya berbelok ke warung makan, mencoba dengan keras untuk melupakan keinginan-keinginan  soal mangga.

 Benar dugaan saya, saya hanya butuh makan. Menghabiskan satu porsi lele sambal dan kuah sop, tenaga saya pelan-pelan terisi kembali. Dengan sisa lemas dan cemas telepon itu, saya pulang menuju kostan. Di jalan, ada sesuatu yang membuat saya tak bisa menahan keinginan saya terhadap mangga, mulanya saya pikir akan sia-sia, entah sudah berapa menit yang lalu bapak itu lewat di belokan ini. Sepeda saya melaju, menyusuri jalan raya, mengejar sebuah sepeda dengan keranjang penuh mangga.


Di ujung jalan, hampir melewati lampu merah, saya menemuknnya! Sepeda tukang mangga itu berhenti di depan sebuah bengkel, saya beli dua buah, dan  ketika kamu membaca paragraf ini, dengan bahagia, saya telah memenuhi keinginan saya.  

Pacar Tak Kasat Mata

Ia menelpon saya selepas isya, dan bilang; “kamu harus makan betapapun hanya sedikit uang yang tersisa di dompetmu!” Saya menimbang-nimbang, ya, memang hanya tersisa empat lembar uang di dompet saya; yang tiga tak berlaku di negara kita, yang satu duapuluh ribuan berwarna hijau yang malang. Saya belum sempat atau ingin ke mesin ATM lagi dan pikir saya apalah yang bisa diharapkan dari rekening yang isinya hanya uang minimum yang tersisa di rekening dan lebihnya sedikit, sekali tarik ludes. “Tapi besok adalah besok yang artinya kamu harus makan betapapun hanya sedikit uang yang tersisa di dompetmu!” Ia ngoceh lagi, seperti pacar yang ngambek kalau batal kencan atau seminggu lamanya tidak diperhatikan.

Lalu, dengan celana training dan uang duapuluh ribuan yang malang dan hanya satu-satunya, di simpang jalan saya bingung mesti ke  angkringan dengan nasi kucingnya yang maha sedikit tapi murah atau burjo  yang agak mahal tapi juga sedikit nasinya? Dan sepeda menuntun saya ke sebuah burjo, memesan sebungkus nasi dengan lauk sederhana dan pulang ke kosan dengan perasaan yang biasa-biasa saja. Sudah puas? Tanya saya, ia memang suka cemas. Ia tidak menanggapi, tapi kemudian berkata seperti pacar perhatian di dalam mimpi; “Begitu dong, jangan sampai telat makan!”

Setelah itu ia menutup teleponnya, dan tidur kembali di dalam dada dengan perasaan bahagia, saya bilang sambil mengelus-elus kepalanya,  saya akan baik-baik saja, jangan khawatirkan saya, diriku. Ia balas dengan senyum seperti bibir seorang pacar yang ranum.


Minggu, 05 November 2017

Dari Puisi, Ke Jalan Lain Ke Kalimantan

Dipeluk sepi Kota Marahaban dini hari, sekitar pukul 01.00 atau 02.00 WITA, saya berjalan seorang diri meninggalkan tempat acara di Kantor Bupati menuju penginapan yang jauhnya saya pikir tidak seberapa. Temu Sastrawan Tifa Nusantara 3 baru saja ditutup, selepas acara, para sastrawan dari penjuru negeri itu sedang asyik-asyiknya menaridi atas panggung utama diiringi lagu-lagu daerah Kalimantan. Saya, setelah ambil dan ikut sejenak menjadi bagian dalamkerumunanitu kini kelelahan, lalu memutuskan untuk kembalikepenginapan lebih dulu.

*

Jumat, 28 Oktober 2016, dalam rangka memenuhi undangan Temu sastrawan Tifa Nuantara 3yang dihelatdi Kota Marabahan, Kabupaten Barito, Kalimantan Selatan. Saya berangkat dan memulai petualangan ini dengan rasa syukur dan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada –siapapun Anda- yang telah membiayai tiket perjalanan ini, saya hanya bisa berdoa, semoga Allah berkali-kali lipat membalasnya.

Ini adalah pengalaman perdana menjejak Tanah Borneo, saya berangkat seorang diri hanya bermodal kebernanian dan tekad yang diyakin-yakin. Saya sempat tersesat di Bandara Soekarno Hatta gara-gara salah turun terminal. Akibatnya saya mesti berjalan kaki dari Terminal 1A ke Terminal 1C yang jaraknya cukup membuat sedikit kelelaha. Belum lagi, semua euforia ini membuat saya lupa makan dan baru saya sadari ketika rasa lapar itu harus saya kunyah pelan-pelan di ruang tunggu.

Setiba di Bandara Syamsudin Noor saya menghubungi panitia, lalu saya dijemput menggunakan mini bus yang berisikan peserta lain. Setelah mini bus terisi penuh kami berangkat menuju Kota Marabahan, perjalanan ditempuh selama 2 jam melewati Kota Banjarmasin. Malam pertama di Kalimantan saya begitu menikmati perjalanan ini sebelum akhirnya saya terlelap tak sadarkan diri.

Setiba di penginapan,peserta langsung digiring ke tempat acara, malam itu, acara Temu Sastrawan Tifa Nusantara 3 dibuka secara resmi oleh pejabat setempat, diikuti oleh penampilan-penampilan seperti dramatisasi puisi oleh Sanggar Sesaji Banjarmasin yang diiringi musik-musik khas Dayak yang bikin merinding. Dan yang penting, tentu saja, akhirnya saya ketemu makan malam!

Paruh pertama hari kedua diisi dengan diskusi sastra, dilanjutkan dengan makan siang, lalu, acara wisata ke Jembatan Rumpiang dan Jembatan Barito. Sepanjang perjalanan, kami ditemani oleh Putri Pariwisata Kabupaten Barito Kuala, yang bersedia menjelaskan ini-itu atau apa saja yang ditanya peserta sepanjang perjalanan.

Hari kedua, malam terakhir, acara ditutup dengan pembacaan nominasi 10 puisi terbaik yang dimuat dalam IJE JELA Antologi Puisi Tifa Nusantara 3 Marabahan dan perform pembacaan puisi oleh peserta. Alhamdulillah saya tidak masuk nominasi, Alhamdulillah saya tidak jadi tampil membacakan puisi karena telat daftar. Tiba-tiba, saya merasa perlu mensyukuri segala sesuatu.

Petualangan saya di Kalimantan diakhiri dengan insiden “hampir ketinggalan pesawat”. Semula bermula oleh agenda wisata yang tak terduga dari panitia, semula saya dan rombongan berangkat pukul 06:30 WITA dari penginapan menuju bandara. Dua jam kemudian kami tiba di Banjarmasin. Tiba-tiba bus diarahkan untuk berhenti di Pasar Terapung Kota Banjarmasin untuk berwisata. Saya dan seorang teman dari Makassar kelabakan sebab tiket kami yang akan berangkat pukul 11. Itu artinya, tersisa dua setengah jam sebelum keberangkatan. Sementara bandara masih 1 jam perjalanan lagi. Akhirnya, saya berusaha menghubungi saudara yang kebetulan tinggal di Banjarmasin. Setengah jam kemudian, ia datang, dan kami buru-buru melaju, menyusuri jalan-jalan Kota Banjarmasin.

Dalam kesempatan ini, saya mengucap syukur berkali-kali atas nikmat yang dicurahkan Tuhan hari-hari belakangan ini, betapa puisi telah membawa saya bertualang hingga sejauh ini. Saya tidak pernah menyangka, satu mimpi yang satu tulis di buku diari Januari lalu kini terwujud juga; saya ingin jalan-jalan ke Kalimantan!

Di jalan pulang, salah seorang teman mengirim pesan “betapa cepat semua ini berlalu, ya. Seperti mimpi!” Kini, setengah senyum dipeluk kain Sasirangan pemberian panitia semalam. Pelan-pelan saya menyadari, mungkin hidup kita memang terbuat dari mimpi, dari kefanaan yang benar-benar abadi.

Musim Nyamuk, November 2016

Minggu, 29 Oktober 2017

Menjelang Usia Sembilan Belas

“Hari-hari berulang, kita tak akan kembali berada di tempat yang sama
 kecuali dengan kembali mengingatnya..”

Menjelang tepat di usia sembilan belas; sederhana saja, seperti yang lain-lain, seperti yang sudah terdengar klise di telinga kita: saya ingin hari-hari jauh lebih baik. Tidak begini-tidak begitu dan tidak seperti yang tidak diinginkan, tentunya. Saya cuma manusia biasa yang punya banyak keinginan, dan sekedar ingin dan walaupun hanya beberapa atau bahkan sedikit saja yang terwujud jadi kenyataan, itu hal yang biasa.

Barangkali kamu belum tahu, beginilah saya merayakan hari kelahiran; sederhana dan jauh dari gegap gempita pesta. Bukan saya tidak suka kejutan atau kado-kado dari teman, keluarga atau yang lainnya. Saya hanya merasa lebih khusyuk merayakannya dengan diri saya sendiri. Ya, seperti yang sudah-sudah, kami berdua hanya akan melaluinya dalam tulisan-tulisan semacam ini.

Dulu, ah saya ingat, dulu sekali waktu masih kelas empat esde mungkin, pertama kali saya dapat kado ulang tahun. Sebelumnya mungkin pernah, tapi saya lupa. Waktu itu seorang kawan perempuan, saya masih ingat sekali, buku tulis, digulung dan dibungkus kertas kado, dan tak lupa kertas label. Waktu itu masih zamannya kertas label harga dijadikan semacam tipe-x dan digunakan untuk menambal tulisan tangan yang salah.

Kelas satu esema, pertama kali saya dapat kue tart pake lilin menyala di atasnya, tidak begitu mewah sebenarnya, tapi itu adalah kali pertama seumur hidup saya. Tapi setelah itu saya tidak  pernah lagi, tidak ingin lagi.

Hari ini, saya ingin menghadiahi diri sendiri dengan mengingat satu hal. Satu fragmen kecil dalam hidup; saya pernah jatuh dari pagar sekolah setinggi dua meter dan terkilir di bagian kaki. Alih-alih diobati, sampai rumah saya dimarah habis-habisan, di naikan ke loteng dekat tower air dalam keadaan kaki terkilir, lalu diikat di kursi beberapa jam. Saya tidak ingat persis apa sebenarnya salah saya waktu itu, dan sampai sedewasa ini, hal itu tetap lucu di kenangan, entah kenapa.

Andai ada yang bertanya tempat mana yang paling ingin saya tuju, jawab saya: tentu saja masa kecil seandainya bisa. Tapi hidup kita ini bergerak, kita tak akan kembali berada di tempat yang sama kecuali dengan kembali mengingatnya.

...

Hari ini, menjelang tepat di usia sembilan belas; sederhana saja, seperti yang lain-lain, seperti yang sudah terdengar biasa di kalangan umat manusia, saya mau jadi lebih baik dan dipertemukan dengan segala hal yang baik-baik, dan hari ini, seperti yang sudah-sudah, saya tidak ingin pesta, kado, kue tart, kejutan dan lain-lain, kami berdua –– ya,saya dan diri saya, hanya ingin merayakannya dalam tulisan ini: selamat ulang tahun, manusia!


Jumat, 20 Oktober 2017

Jatuh Cinta

Kita kerap jatuh cinta dan selalu gagal menyembunyikannya.
Minggu, 15 Oktober 2017

Senja

Tiba-tiba saya kangen warna senja. Lama rasanya tidak duduk diam menikmati keheningan di bawah senja yang pelan-pelan surut. Sore ini, ditumpuk sejuta bayang-bayangmu, kepala saya rasanya berat dan butuh hal-hal yang bisa membuatnya terasa lebih ringan. Dan entah kenapa saya pilih menyalakan komputer, memilih satu lagu dari sekian banyak folder,  dan mampus! Saya dibuat terhenyak pada satu larik “Lagu untuk Sebuah Nama” Ebiet G Ade; sebab cinta bukan mesti bersatu...

Entahlah, tapi tiba-tiba saya ingin bertanya pada diri sendiri; apakah yang sebenarnya sedang saya rindukan? Jangan-jangan saya tak pernah benar-benar merindukan warna senja, jangan-jangan di bagian pikiran saya yang lain, saya justru sedang merindukanmu? benarkah begitu? Benarkah saya cuma pura-pura merindukan warna senja padahal saya sedang pusing ditimpa nama-nama yang jatuh dari langit? Benarkah begitu?


Begitulah, pelan-pelan saya menyadari, biarpun kelak kamu tidak akan jadi milik saya, paling tidak kamu pernah hadir dalam hidup saya, paling tidak kamu pernah hidup dalam paragraf kecil ini.
Sabtu, 14 Oktober 2017

Tiga Puisi

SUATU KETIKA

Ketika memandang halaman dan hari sedang hujan,
Daun-daun bebas bertebaran padahal angin berhembus
Pelan padahal dua jam lalu langit tenang, kukira senja akan
Merah dan tepat sekali ketika sunyi memandangku dari
Kejauhan, malam turun pelan-pelan.

(Solo, 2017)

MASA KECIL HUJAN

1/
Selalu menyenangkan
Menjadi anak kecil, pikirnya

Ia sama sekali tidak butuh payung.
Hanya teduh mata ibunya

Dan sedikit anggukan ketika ia meminta,
Tanda ia diperbolehkan.

Di sepanjang masa kecilnya, ia hanya
Butuh tertawa.

2/
Kini, bersama kenangan
Yang menitik di kedua matanya

Ia biarkan hujan di luar jendela
Makin deras mengguyur tubuhnya

( Solo, 2017)

NYAMUK DAN HUJAN

Mungkin karena hujan
Nyamuk beterbangan
Dan hinggap di lenganku

Mungkin karena hujan
Nyamuk kedinginan dan
Menghisap hangat darahku

Mungkin karena hujan
Ya, karena hujan makin deras
Dan menghanyutkana rumahmu.

(solo, 2017)

TENTANG PENULIS

Muhammad Habibur Rohman, lahir di Lampung, penyuka musik indie dan hujan.

Dimuat di Nusantaranews.co edisi 8 Oktober 2017
Minggu, 01 Oktober 2017

Rambut Panjang

Rambut saya sudah mulai panjang, biasanya takut kena razia guru sehingga rambut samping jarang sampai menyentuh kuping. Sudah tiga bulan kira-kira,sejak tinggal di kota ini, saya belum sempat atau mau memotongnya. Agak risih memang, sebab saya belum terbiasa. Pikir saya selama ini, memelihara rambut hanya akan memperburuk perangai saya, sebab kata ibu waktu kecil dulu, kalau rambut saya panjang, saya jadi nakal.

Hari ini saya tidak sekecil itu, Bu. Pernah saya bilang kalau  mau punya rambut panjang biar bisa dikuncir, ibu saya ngomel tak habis pikir. Buat apa? Katanya.  Jadi sastrawan itu yang penting karya dan ilmunya, bukan rambutnya, timpal ayah. Saya cuma bisa mangut-manggut. 

Di kampus saya, lelaki berambut panjang adalah hal yang lumrah. Waktu pertama kali mendapati kenyataan itu, seketika terbit kembali sesilam cita-cita kecil. Tapi, entah juga. Beberapa hari yang lalu saya sempat menjadwalkan diri ke tukang cukur, tapi tidak jadi. Apakah ini pertanda bahwa saya mesti memanjangkan rambut saya?


Entah, yang jelas, hari ini saya keramas dua kali dan rasanya rambut jadi lembut dan ringan. 
Sabtu, 06 Agustus 2016

Catatan Kecil Tentang Hujan

Aku merasa mendengar suara...
-Eibiet G Ade 

Di sini, sebutir embun jelas bukan lagi kesunyian paling dingin: gerimis turun sebagai sesuatu yang tak tertampung-- hujan melenting dari atap rumah, menggali lubang-lubang kecil dan membenamkan dirinya sendiri ke dalam tanah. Kupikir, kesunyian jelas bukan cuma lengang jalan tanpa orang-orang, atau sebuah narasi tentang hujan di halaman rumahmu. Tetapi, pernahkah kaudengar teriak lantang secuil batu? Pernahkah kaudengar rintih ranting-ranting jambu? Pernahkah kaudengar suara merdu perempuan bisu? Atau pernahkah kaudengar embun nenyampaikan sesuatu setelah membaca matamu?
Di suatu kota, barangkali ada yang sedang duduk membaca sesuatu di luar jendela. Lalu sayup-sayup terdengar suaramu di sela-sela hujan yang melenting jatuh itu. 'Di sini hujan juga.'
 
;