Rambut
saya sudah mulai panjang, biasanya takut kena razia guru sehingga rambut
samping jarang sampai menyentuh kuping. Sudah tiga bulan kira-kira,sejak
tinggal di kota ini, saya belum sempat atau mau memotongnya. Agak risih memang,
sebab saya belum terbiasa. Pikir saya selama ini, memelihara rambut hanya akan
memperburuk perangai saya, sebab kata ibu waktu kecil dulu, kalau rambut saya
panjang, saya jadi nakal.
Hari
ini saya tidak sekecil itu, Bu. Pernah
saya bilang kalau mau punya rambut panjang
biar bisa dikuncir, ibu saya ngomel tak habis pikir. Buat apa? Katanya. Jadi sastrawan itu yang penting karya dan
ilmunya, bukan rambutnya, timpal ayah. Saya cuma bisa mangut-manggut.
Di kampus
saya, lelaki berambut panjang adalah hal yang lumrah. Waktu pertama kali
mendapati kenyataan itu, seketika terbit kembali sesilam cita-cita kecil. Tapi,
entah juga. Beberapa hari yang lalu saya sempat menjadwalkan diri ke tukang
cukur, tapi tidak jadi. Apakah ini pertanda bahwa saya mesti memanjangkan
rambut saya?
Entah,
yang jelas, hari ini saya keramas dua kali dan rasanya rambut jadi lembut dan
ringan.
