Tiba-tiba
saya kangen warna senja. Lama rasanya tidak duduk diam menikmati keheningan di
bawah senja yang pelan-pelan surut. Sore ini, ditumpuk sejuta bayang-bayangmu,
kepala saya rasanya berat dan butuh hal-hal yang bisa membuatnya terasa lebih ringan.
Dan entah kenapa saya pilih menyalakan komputer, memilih satu lagu dari sekian
banyak folder, dan mampus! Saya dibuat terhenyak
pada satu larik “Lagu untuk Sebuah Nama” Ebiet G Ade; sebab cinta bukan
mesti bersatu...
Entahlah,
tapi tiba-tiba saya ingin bertanya pada diri sendiri; apakah yang sebenarnya
sedang saya rindukan? Jangan-jangan saya tak pernah benar-benar merindukan
warna senja, jangan-jangan di bagian pikiran saya yang lain, saya justru sedang
merindukanmu? benarkah begitu? Benarkah saya cuma pura-pura merindukan warna
senja padahal saya sedang pusing ditimpa nama-nama yang jatuh dari langit? Benarkah
begitu?
Begitulah,
pelan-pelan saya menyadari, biarpun kelak kamu tidak akan jadi milik saya,
paling tidak kamu pernah hadir dalam hidup saya, paling tidak kamu pernah hidup
dalam paragraf kecil ini.
