Minggu, 15 Oktober 2017

Senja

Tiba-tiba saya kangen warna senja. Lama rasanya tidak duduk diam menikmati keheningan di bawah senja yang pelan-pelan surut. Sore ini, ditumpuk sejuta bayang-bayangmu, kepala saya rasanya berat dan butuh hal-hal yang bisa membuatnya terasa lebih ringan. Dan entah kenapa saya pilih menyalakan komputer, memilih satu lagu dari sekian banyak folder,  dan mampus! Saya dibuat terhenyak pada satu larik “Lagu untuk Sebuah Nama” Ebiet G Ade; sebab cinta bukan mesti bersatu...

Entahlah, tapi tiba-tiba saya ingin bertanya pada diri sendiri; apakah yang sebenarnya sedang saya rindukan? Jangan-jangan saya tak pernah benar-benar merindukan warna senja, jangan-jangan di bagian pikiran saya yang lain, saya justru sedang merindukanmu? benarkah begitu? Benarkah saya cuma pura-pura merindukan warna senja padahal saya sedang pusing ditimpa nama-nama yang jatuh dari langit? Benarkah begitu?


Begitulah, pelan-pelan saya menyadari, biarpun kelak kamu tidak akan jadi milik saya, paling tidak kamu pernah hadir dalam hidup saya, paling tidak kamu pernah hidup dalam paragraf kecil ini.
 
;