Selasa, 07 November 2017

Pacar Tak Kasat Mata

Ia menelpon saya selepas isya, dan bilang; “kamu harus makan betapapun hanya sedikit uang yang tersisa di dompetmu!” Saya menimbang-nimbang, ya, memang hanya tersisa empat lembar uang di dompet saya; yang tiga tak berlaku di negara kita, yang satu duapuluh ribuan berwarna hijau yang malang. Saya belum sempat atau ingin ke mesin ATM lagi dan pikir saya apalah yang bisa diharapkan dari rekening yang isinya hanya uang minimum yang tersisa di rekening dan lebihnya sedikit, sekali tarik ludes. “Tapi besok adalah besok yang artinya kamu harus makan betapapun hanya sedikit uang yang tersisa di dompetmu!” Ia ngoceh lagi, seperti pacar yang ngambek kalau batal kencan atau seminggu lamanya tidak diperhatikan.

Lalu, dengan celana training dan uang duapuluh ribuan yang malang dan hanya satu-satunya, di simpang jalan saya bingung mesti ke  angkringan dengan nasi kucingnya yang maha sedikit tapi murah atau burjo  yang agak mahal tapi juga sedikit nasinya? Dan sepeda menuntun saya ke sebuah burjo, memesan sebungkus nasi dengan lauk sederhana dan pulang ke kosan dengan perasaan yang biasa-biasa saja. Sudah puas? Tanya saya, ia memang suka cemas. Ia tidak menanggapi, tapi kemudian berkata seperti pacar perhatian di dalam mimpi; “Begitu dong, jangan sampai telat makan!”

Setelah itu ia menutup teleponnya, dan tidur kembali di dalam dada dengan perasaan bahagia, saya bilang sambil mengelus-elus kepalanya,  saya akan baik-baik saja, jangan khawatirkan saya, diriku. Ia balas dengan senyum seperti bibir seorang pacar yang ranum.


 
;