Ia menelpon saya selepas isya, dan bilang; “kamu harus makan
betapapun hanya sedikit uang yang tersisa di dompetmu!” Saya menimbang-nimbang,
ya, memang hanya tersisa empat lembar uang di dompet saya; yang tiga tak
berlaku di negara kita, yang satu duapuluh ribuan berwarna hijau yang malang. Saya
belum sempat atau ingin ke mesin ATM lagi dan pikir saya apalah yang bisa
diharapkan dari rekening yang isinya hanya uang minimum yang tersisa di
rekening dan lebihnya sedikit, sekali tarik ludes. “Tapi besok adalah besok
yang artinya kamu harus makan betapapun hanya sedikit uang yang tersisa di
dompetmu!” Ia ngoceh lagi, seperti pacar yang ngambek kalau batal kencan atau
seminggu lamanya tidak diperhatikan.
Lalu, dengan celana training dan uang duapuluh ribuan yang
malang dan hanya satu-satunya, di simpang jalan saya bingung mesti ke angkringan dengan nasi kucingnya yang maha
sedikit tapi murah atau burjo yang agak
mahal tapi juga sedikit nasinya? Dan sepeda menuntun saya ke sebuah burjo,
memesan sebungkus nasi dengan lauk sederhana dan pulang ke kosan dengan
perasaan yang biasa-biasa saja. Sudah puas? Tanya saya, ia memang suka cemas. Ia
tidak menanggapi, tapi kemudian berkata seperti pacar perhatian di dalam mimpi;
“Begitu dong, jangan sampai telat makan!”
Setelah itu ia menutup teleponnya, dan tidur kembali di
dalam dada dengan perasaan bahagia, saya bilang sambil mengelus-elus kepalanya, saya akan baik-baik saja, jangan khawatirkan
saya, diriku. Ia balas dengan senyum seperti bibir seorang pacar yang ranum.
