udara bening, ketenangan mencapai puncaknya, dan kesadaran telah melampaui
batasnya. Saya baru pulang dari kampus, menyelesaikan pembuatan orang-orangan
sawah untuk keperluan pentas. Meskipun pada akhirnya pertemuan kami tidak
menghasilkan apa-apa, selain kebingungan dan kebuntuan tentang bagaimana
menyelesaikannya, paling tidak kami sudah mencoba. Kebutuhan inni sesungguhnya
agak berat untuk tim Perlengkapan, pasalnya yang dibuat bukan hanya orang-orangan
sawah yang biasa dipasang petani, kami harus membuat sebuah diorama
orang-orangan sawah.
Seperti
yang sudah saya bilang, saya baru pulang dari kampus. Sekarang pukul dua belas lebih tiga belas,
udara bening dan ketenangan telah sampai pada puncaknya. Saya tidak khawatir
apa-apa, ketenangan ini nikmat dan membahagiakan, kecuali satu hal; bagaimanakah
saya harus bangun esok hari? Saya memang telah memintamu untuk membangunkan
saya lewat telepon, tapi sebenarnya saya tidak menjamin, paling tidak adalah
usaha agar saya bisa bangun besok pagi. Biasanya, alarm lima kali saja saya
tidak sadar, dan siapa tahu, sebab kamulah yang membangunkan saya, saya bisa kembali terjaga.
Sebenarnya,
ini belum larut menurut orang-orang yang biasa tidur menjelang pagi, belum ada
apa-apanya dan memang begitulah saya: selalu sulit dan merasa gagal untuk
tridur sedikit lebih lama, apa lagi jika menghadapi tugas kuliah. Saya pernah
mencoba tidur lebih awal dan berharap bangun sekira pukul dua, mencoba menulis
atau apalah, tapi pada kenyataannya saya gagal, alih-alih pukul dua saya justru
bangun ketika pagi sudah beranjak terang.
Beruntunglah
orang-orang yang terbiasa bangun pagi, mereka bisa melakukan aktivitas dengan
khusyuk dan terhindar dari pikiran yang ruwet.
Waktu
telah berjalan mendekati pukul satu, rasa kantuk mampir, mulai muncul bunga di
kening saya, pelan-pelan rekah, seperti doa-doa yang pasrah. Ah, saya harus segera tidur.
