Selasa, 07 November 2017

Mengejar Mangga

Jangan terlalu serius membaca judul ini, mangga tidak benar-benar berlari dan mana mungkin saya mengejarnya. Ceritanya begini, sekira menjelang pukul satu siang, sambil istirahat menikmati ketidakhadiran dosen, saya menunggu pelanggan masuk dan sibuk konfirmasi sana-sini soal pelunasan barang yang akan ikut pengiriman hari ini. Seorang bapak, dengan perhatiannya memesan shampoo anti kutu yang saya jual untuk putrinya, mungkin hampir putus asa, kutu-kutu itu tak kunjung juga berpisah dengan kepala putrinya.

 Sedang tenggelam dalam kesibukan itu, tiba-tiba saya rasakan perut berbunyi beberapa kali. Tidak biasanya, pikir saya. Pagi tadi saya sarapan sekira pukul setengah sembilan dengan porsi biasa, cukup mengherankan mengingat hari-hari biasa, bahkan saya cukup makan gorengan dan arem-arem.
Saya jadi penasaran dan menerka-nerka, jangan-jangan ada masalah dengan menu sarapan yang saya makan, jangan-jangan ada yang tidak beres dengan es dawet yang saya beli di jalan pulang menuju kosan, sedang dipenuhi pikiran itu, badan saya tetiba lemas, saya makin cemas. Di atas kasur saya berbaring dengan gelisah, meski dengan jari-jari bergetar saya usahakan tetap profesional membalas pertanyaan-pertanyaan konsumen.

Beberapa menit kemudian, saya sudah tidak tahan, barangkali saya hanya lapar, tapi telpon dari pacar saya makin keras dan nyaring berbunyi. “Ada apa sebenarnya? Kamu ga papa kan?” saya paham, sedikit saja teledor, saya akan membuatnya cemas. Saya mulai membayangkan aroma klinik, obat-obatan, ah itu menakutkan! Akhirnya, mengenakan training yang saya pakai semalam, saya bergegas dengan tenaga seadanya menuju warung makan. Saya hanya ingin makan, bukan klinik, obat atau lain-lain, pikir saya. dalam kayuhan sepeda itu, saya tahu, ia menahan cemas. Saya tutup sebentar teleponnya, dengan kata-kata “Tenang, saya akan baik-baik saja, Diriku.”

Di jalan, sebelum berbelok ke warung makan, saya berpapasan dengan seorang bapak paruh baya yang  menuntun sebuah sepeda dengan keranjang penuh mangga. Ingat percakapan telepon dengan ibu beberapa hari lalu, tetiba saya pingin satu hal; mangga. Tapi terlalu banyak keinginan di tengah krisis begini bukanlah suatu hal yang baik, pikir saya. saya berbelok ke warung makan, mencoba dengan keras untuk melupakan keinginan-keinginan  soal mangga.

 Benar dugaan saya, saya hanya butuh makan. Menghabiskan satu porsi lele sambal dan kuah sop, tenaga saya pelan-pelan terisi kembali. Dengan sisa lemas dan cemas telepon itu, saya pulang menuju kostan. Di jalan, ada sesuatu yang membuat saya tak bisa menahan keinginan saya terhadap mangga, mulanya saya pikir akan sia-sia, entah sudah berapa menit yang lalu bapak itu lewat di belokan ini. Sepeda saya melaju, menyusuri jalan raya, mengejar sebuah sepeda dengan keranjang penuh mangga.


Di ujung jalan, hampir melewati lampu merah, saya menemuknnya! Sepeda tukang mangga itu berhenti di depan sebuah bengkel, saya beli dua buah, dan  ketika kamu membaca paragraf ini, dengan bahagia, saya telah memenuhi keinginan saya.  
 
;