Jangan
terlalu serius membaca judul ini, mangga tidak benar-benar berlari dan mana
mungkin saya mengejarnya. Ceritanya begini, sekira menjelang pukul satu siang,
sambil istirahat menikmati ketidakhadiran dosen, saya menunggu pelanggan masuk
dan sibuk konfirmasi sana-sini soal pelunasan barang yang akan ikut pengiriman
hari ini. Seorang bapak, dengan perhatiannya memesan shampoo anti kutu yang
saya jual untuk putrinya, mungkin hampir putus asa, kutu-kutu itu tak kunjung
juga berpisah dengan kepala putrinya.
Sedang tenggelam dalam kesibukan itu,
tiba-tiba saya rasakan perut berbunyi beberapa kali. Tidak biasanya, pikir
saya. Pagi tadi saya sarapan sekira pukul setengah sembilan dengan porsi biasa,
cukup mengherankan mengingat hari-hari biasa, bahkan saya cukup makan gorengan
dan arem-arem.
Saya
jadi penasaran dan menerka-nerka, jangan-jangan ada masalah dengan menu sarapan
yang saya makan, jangan-jangan ada yang tidak beres dengan es dawet yang saya
beli di jalan pulang menuju kosan, sedang dipenuhi pikiran itu, badan saya
tetiba lemas, saya makin cemas. Di atas kasur saya berbaring dengan gelisah,
meski dengan jari-jari bergetar saya usahakan tetap profesional membalas
pertanyaan-pertanyaan konsumen.
Beberapa
menit kemudian, saya sudah tidak tahan, barangkali saya hanya lapar, tapi
telpon dari pacar saya makin keras dan nyaring berbunyi. “Ada apa
sebenarnya? Kamu ga papa kan?” saya paham, sedikit saja teledor, saya akan
membuatnya cemas. Saya mulai membayangkan aroma klinik, obat-obatan, ah itu
menakutkan! Akhirnya, mengenakan training yang saya pakai semalam, saya
bergegas dengan tenaga seadanya menuju warung makan. Saya hanya ingin makan,
bukan klinik, obat atau lain-lain, pikir saya. dalam kayuhan sepeda itu, saya
tahu, ia menahan cemas. Saya tutup sebentar teleponnya, dengan kata-kata “Tenang,
saya akan baik-baik saja, Diriku.”
Di jalan,
sebelum berbelok ke warung makan, saya berpapasan dengan seorang bapak paruh
baya yang menuntun sebuah sepeda dengan
keranjang penuh mangga. Ingat percakapan telepon dengan ibu beberapa hari lalu,
tetiba saya pingin satu hal; mangga. Tapi terlalu banyak keinginan di tengah
krisis begini bukanlah suatu hal yang baik, pikir saya. saya berbelok ke warung
makan, mencoba dengan keras untuk melupakan keinginan-keinginan soal mangga.
Benar dugaan saya, saya hanya butuh makan. Menghabiskan
satu porsi lele sambal dan kuah sop, tenaga saya pelan-pelan terisi kembali. Dengan
sisa lemas dan cemas telepon itu, saya pulang menuju kostan. Di jalan, ada
sesuatu yang membuat saya tak bisa menahan keinginan saya terhadap mangga,
mulanya saya pikir akan sia-sia, entah sudah berapa menit yang lalu bapak itu
lewat di belokan ini. Sepeda saya melaju, menyusuri jalan raya, mengejar sebuah
sepeda dengan keranjang penuh mangga.
Di ujung jalan, hampir melewati lampu merah,
saya menemuknnya! Sepeda tukang mangga itu berhenti di depan sebuah bengkel,
saya beli dua buah, dan ketika kamu membaca
paragraf ini, dengan bahagia, saya telah memenuhi keinginan saya.
