Sabtu, 04 Juni 2016

Juni: Sebuah Aforisma Tentang Cinta



‘...memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga,
sampai pada suatu hari kita lupa untuk apa...’
Sapardi Djoko Damono


Sebegini pagi, setetes embun  mengigil di runcing diri; hendak menetes ia ragu. ‘Barangkali masih pantas aku di sini biarpun malam sudah berlalu.’ Bisiknya, pada remah-remah daun cemara kering yang sudah berhari-hari karam di tanah. Sepulang menunaikan subuh, saya berjalan pelan-pelan melewati halaman tetangga; baru tiga hari lalu bulan juni mekar di tujuh kelopak anggrek ungu milik tetangga saya yang cinta bunga itu. Pagi ini saya lihat bunga itu sudah mekar lagi satu kelopak, yang lainnya masih sama segar seperti tiga hari lalu.     

Bosan ditekan suasana sunyi, saya menendang sebongkah kerikil dengan ujung sandal; berlari ia menyusup ke dalam rumput-rumput liar yang sudah mulai tinggi, secuil kerikil itu sudah tak tampak lagi.  

Tiba-tiba. Entah kenapa; sebuah aforisma lahir dari kepala saya. Ia seperti mencuat ingin keluar dari kepala. Memaksa saya agar membacanya. Dan entah dari mana. Milik siapa. Sebaris kata-kata muncul di depan mata saya; mengambang di udara. ‘Apakah grafitasi tidak mempan untuk menjatuhkan sebaris kata-kata?’ pikir saya. Tolol. Belum juga menyadari apa yang terjadi.
Di hadapan saya, sebaris kalimat itu bersinar; ia benar-benar minta dibaca. Begini tertulis:

‘Cinta adalah rekah bunga-bunga, gugur musim-musim.’

Maksudnya apa? Saya juga agak bingung.  Bila cinta disandingkan dengan kalimat ‘rekah bunga-bunga’, kemungkinan artinya adalah sumber kebahagiaan; keindahan, aroma, dan hal-hal lain yang berhubungan dengan itu. lalu, bila cinta disandingkan pula dengan kalimat ‘gugur musim-musim’, saya kira, artinya tidak jauh-jauh dari kegetiran, kehilangan, kepedihan; tentu saja apabila yang dimaksud dengan gugurnya musim-musim itu adalah ranggasnya pepohonan di musim gugur. Tetapi, apabila yang dimaksud oleh kalimat ‘gugur musim-musim’ itu adalah ranggasnya musim-musim; yang tentu saja maksudnya adalah berlalunya waktu, tanggal semusim-demi semusim, kemungkinan, makna yang disampaikan kalimat itu adalah ketidakabadian cinta.  Ah, apakah benar ada cinta yang abadi? Jangan-jangan pada suatu saat nanti, cinta akan menemukan batasnya. Jangan-jangan, ketika cinta sudah mencapai batasnya, si pencinta dan yang dicintai tidak bisa lagi saling mencintai. Jadi, apakah benar ada cinta yang benar-benar abadi?

Memandangi arah timur, saya mendapati matahari tengah malu-malu; barangkali hari itu juga harapannya akan terwujud. Nyatanya, si Bulan yang dicintainya setengah mati itu sudah karam duluan di barat. Sewaktu, ia mulai ragu atas cintanya sendiri, yang ia simpan rapat—rapat dalam lembar-lembar cahayanya sendiri. tetapi kemudian, suatu ketetapan yang entah darimana asalanya mengharuskannya untuk muncul juga, mendapati sebenar-benar kenyataan; bahwa langit hanya kosong, tak ada bulan berenang di dalamnya. Kecuali sapuan awan tipis yang  sedikit keemas-emasan terpercik cahayanya sendiri.  Dan bila begini, saya pikir, tentu ia tahu harus buat apa. Ia mesti datang lagi esok pagi, mengintip malu-malu, meski harus menemui langit yang kosong lagi. Tetapi, pikirnya, cinta tetap cinta. Bulan adalah kekasihnya meski jauh dari mata.

Jadi, apakah benar ada cinta yang sebenar-benar abadi?

Tiba-tiba, ada sesuatu yang mengharuskan saya tersenyum-senyum sendiri; pikiran tentang matahari itu.  Benar juga, pikir saya. Cinta yang sudah kepalang tumbuh tetap akan tumbuh sebagai cinta sekeras apapun kamu menolaknya, sejauh apapun saya gagal membuat kamu memahaminya. Ah, kini saya diselimuti perasaan yang kalut. Apakah saya akan terus mencintaimu walaupun pada akhirnya kamu tidak juga  menerima saya?

Kalau saya menjawab ‘iya’, apakah kamu percaya ada cinta yang sebenar-benar abadi?
....

Tertulis bagi KA
 
;