‘...memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga,
sampai pada suatu hari kita lupa untuk apa...’
– Sapardi Djoko Damono
Sebegini
pagi, setetes embun mengigil di runcing
diri; hendak menetes ia ragu. ‘Barangkali masih pantas aku di sini biarpun
malam sudah berlalu.’ Bisiknya, pada remah-remah daun cemara kering yang sudah
berhari-hari karam di tanah. Sepulang menunaikan subuh, saya berjalan pelan-pelan
melewati halaman tetangga; baru tiga hari lalu bulan juni mekar di tujuh
kelopak anggrek ungu milik tetangga saya yang cinta bunga itu. Pagi ini saya
lihat bunga itu sudah mekar lagi satu kelopak, yang lainnya masih sama segar
seperti tiga hari lalu.
Bosan
ditekan suasana sunyi, saya menendang sebongkah kerikil dengan ujung sandal;
berlari ia menyusup ke dalam rumput-rumput liar yang sudah mulai tinggi, secuil
kerikil itu sudah tak tampak lagi.
Tiba-tiba.
Entah kenapa; sebuah aforisma lahir dari kepala saya. Ia seperti mencuat ingin
keluar dari kepala. Memaksa saya agar membacanya. Dan entah dari mana. Milik
siapa. Sebaris kata-kata muncul di depan mata saya; mengambang di udara.
‘Apakah grafitasi tidak mempan untuk menjatuhkan sebaris kata-kata?’ pikir
saya. Tolol. Belum juga menyadari apa yang terjadi.
Di
hadapan saya, sebaris kalimat itu bersinar; ia benar-benar minta dibaca. Begini
tertulis:
‘Cinta adalah rekah bunga-bunga, gugur musim-musim.’
Maksudnya
apa? Saya juga agak bingung. Bila cinta
disandingkan dengan kalimat ‘rekah bunga-bunga’, kemungkinan artinya
adalah sumber kebahagiaan; keindahan, aroma, dan hal-hal lain yang berhubungan
dengan itu. lalu, bila cinta disandingkan pula dengan kalimat ‘gugur
musim-musim’, saya kira, artinya tidak jauh-jauh dari kegetiran,
kehilangan, kepedihan; tentu saja apabila yang dimaksud dengan gugurnya
musim-musim itu adalah ranggasnya pepohonan di musim gugur. Tetapi, apabila
yang dimaksud oleh kalimat ‘gugur musim-musim’ itu adalah ranggasnya
musim-musim; yang tentu saja maksudnya adalah berlalunya waktu, tanggal
semusim-demi semusim, kemungkinan, makna yang disampaikan kalimat itu adalah
ketidakabadian cinta. Ah, apakah benar ada cinta
yang abadi? Jangan-jangan pada suatu saat nanti, cinta akan menemukan batasnya.
Jangan-jangan, ketika cinta sudah mencapai batasnya, si pencinta dan yang
dicintai tidak bisa lagi saling mencintai. Jadi, apakah benar ada cinta yang
benar-benar abadi?
Memandangi
arah timur, saya mendapati matahari tengah malu-malu; barangkali hari itu juga
harapannya akan terwujud. Nyatanya, si Bulan yang dicintainya setengah mati itu
sudah karam duluan di barat. Sewaktu, ia mulai ragu atas cintanya sendiri, yang
ia simpan rapat—rapat dalam lembar-lembar cahayanya sendiri. tetapi kemudian,
suatu ketetapan yang entah darimana asalanya mengharuskannya untuk muncul juga,
mendapati sebenar-benar kenyataan; bahwa langit hanya kosong, tak ada bulan
berenang di dalamnya. Kecuali sapuan awan tipis yang sedikit keemas-emasan terpercik cahayanya
sendiri. Dan bila begini, saya pikir,
tentu ia tahu harus buat apa. Ia mesti datang lagi esok pagi, mengintip malu-malu,
meski harus menemui langit yang kosong lagi. Tetapi, pikirnya, cinta tetap
cinta. Bulan adalah kekasihnya meski jauh dari mata.
Jadi,
apakah benar ada cinta yang sebenar-benar abadi?
Tiba-tiba,
ada sesuatu yang mengharuskan saya tersenyum-senyum sendiri; pikiran tentang
matahari itu. Benar juga, pikir saya. Cinta
yang sudah kepalang tumbuh tetap akan tumbuh sebagai cinta sekeras apapun kamu
menolaknya, sejauh apapun saya gagal membuat kamu memahaminya. Ah, kini saya diselimuti
perasaan yang kalut. Apakah saya akan terus mencintaimu walaupun pada akhirnya
kamu tidak juga menerima saya?
Kalau
saya menjawab ‘iya’, apakah kamu percaya ada cinta yang sebenar-benar abadi?
....
Tertulis
bagi KA
