Senin, 06 Juni 2016

Anak-Anak Masa Lalu*



‘... aku ingin pulang..’ – Ebit G Ade

Konon, masa lalu adalah jejak yang tertinggal jauh di dalam ingatan; sesuatu yang tidak mungkin kau sentuh dengan tangan. Kau hanya bisa menatapnya dari masa depan, dari kejauhan; seperti menatap buritan kapal  yang pelan-pelan jauh dan menjelma titik hitam, lalu tenggelam dalam senja yang karatan. Kau hanya bisa mengingatnya seperti styrofoam mengapung di muka kolam; kau tak bisa menyelam lebih dalam dan kembali ke masa silam.

Konon kenangan dicipta dari masa lalu; disusun dari ruang dan waktu, tempat terjadinya peristiwa yang membawamu terlibat di dalamnya. Masing-masing orang punya kenangan; selembar ingatan tipis di dalam kepala, yang kadang bisa bikin gerimis menitik di sudut mata, atau selengkung senyum tumbuh di muka.

Kita hanya anak-anak masa lalu, yang terlahir di hari depan, dan dibesarkan oleh kenangan.   

...

Saya mengingat masa-masa yang sudah jauh itu ketika pagi ini, saya dapati beberapa teman masa kecil saya berkumpul dalam sebuah kolom komentar. Seorang teman menulis status yang menyulut kerinduan pada masa lalu, mengulas cerita-cerita lama, ah betapa melankoli!

Saya pun mengakui, diri saya hari ini juga tercipta dari masa lalu, ada bagian paling tidak terpisahkan; ingatan. Masa lalumu menentukan  siapa kamu hari ini. Maksud saya, tidak juga menjadi diri yang itu-itu juga dan tanpa mengalami perubahan sedikitpun, masa lalu bisa membuat hidupmu bertolak dari jalan sebelumnya, menjadi batu loncatan di kemudian hari.

Ah, tetiba saya kepikiran J, Si Tinggi Gemuk itu suka bikin penuh gawang kalau main sepak bola. Gelagat bicaranya yang ‘ceplas-ceplos’ itu sangat lucu jika dipadukan dengan kepolosannya. Maaf, J. kusebut kau bocah polos karena memang kau tak pernah berani melawan DI dan selalu terima-terima saja kalau dianiaya. Terus terang saja sampai hari ini aku masih geram perkara kelicikanmu, diam-diam pulang sewaktu main petak umpet. Hahaha

DI, tampaknya kau memang punya bakat jadi pencuri. Apakah kau masih ingat perkara mencuri kelapa muda milik Pak KH? Atau perkara kau menyeret aku saat memancing di kolam milik orang? Ah, yang benar saja, kenapa aku dulu mau ikut denganmu? Diam-diam, aku menyesal juga pernah melakukan itu. hahaha

DA, J, DI, NA, IL, DM, AR, AL, SU,EN,AY, RO, harus bagaimana kita minta maaf pada pemilik kolam yang diam-diam kita pancing ikannya itu? apakah permpuan yang tersengat lebah setelah sarangnya kita lempar ramai-ramai itu masih ingat? Jangankan, kita saja lari tunggang langgang dan tak mau mengakui perkara itu. hahaha.  Apakah kalian masih ingat perkara mengubah sawah kering menjadi lapangan bola? Apakah semangat itu masih ada? melempari mobil-mobil di jalan dengan petasan, lalu lari sembunyi, kita memang pelari yang handal, bukan?

Ingatan-ingatan soal itu masih manis di kepala saya.

Hari ini kita sudah berjalan di atas kaki masing-masing; tetapi, bukankah masa lalu selalu ikut kemana kita pergi?

...

Konon, masa lalu adalah jejak yang tidak bisa dihapus oleh siapapun. Seberapa besar usaha-usaha untuk menghapusnya adalah sia-sia. Konon masa lalu adalah bayangan yang selalu lekat pada tubuhnya, ikut kemanapun hari depan pergi, jadi siapapun kau nanti. Konon tak ada yang bisa membuang masa lalunya, kecuali terus-menerus merawat dalam ingatannya.

Kita hanya anak-anak masa lalu, yang terlahir di hari depan, dan dibesarkan oleh kenangan.  

Hadiah  bagi kawan-kawan masa kecil,
 semoga senantiasa dimudahkan jalan hidupmu

(*) meminjam judul kumpulan cerpen  Damhuri Muhammad
 
;